JAYAPURA, PL– Pemerintah Provinsi Papua resmi meluncurkan inisiatif besar untuk mentransformasi sektor komoditas unggulan daerah melalui hilirisasi sagu. Langkah strategis ini dilakukan dengan mengintegrasikan kinerja lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) guna memastikan produk turunan sagu Papua tidak hanya berdaulat di negeri sendiri, tetapi juga mampu menembus pasar ekspor di Jepang, Australia, hingga Jerman.
Upaya ini menjadi tonggak baru dalam penguatan ekonomi kerakyatan berbasis kearifan lokal, di mana sagu diposisikan sebagai “emas hijau” yang akan menggerakkan roda perekonomian dari tingkat kampung hingga ke pasar internasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Provinsi Papua, Jimmy A.Y. Thesia, menegaskan bahwa selama ini pengembangan potensi lokal sering terhambat oleh ego sektoral. Menindaklanjuti arahan Gubernur Papua, kini Pemprov menerapkan satu tematik besar yang membagi peran spesifik setiap instansi.
“Inisiatif ini lahir setelah kami melihat potensi besar pelaku usaha lokal, seperti Sasagu yang dikelola Ibu Herlinda Sinaga. Namun, pemerintah tidak boleh hanya melihat hasil akhir di pasar. Kita harus membenahi dari hulu hingga hilir; mulai dari ketersediaan bahan baku di hutan, standarisasi proses produksi, hingga inkubasi bisnis bagi UMKM,” ujar Thesia usai melakukan pertemuan strategis dengan Penjabat Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, di Jayapura, Kamis (19/2/26).
Thesia menambahkan bahwa sagu memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki komoditas lain.
“Sagu adalah anugerah Tuhan untuk tanah ini. Kita tidak perlu menanam dari nol seperti sawit atau karet. Cukup tebang satu pohon, maka 12 tunas baru akan tumbuh secara alami. Habitatnya sudah tersedia, tugas kita adalah mengelolanya secara profesional,” tegasnya.
Dalam peta jalan ekspor tahun 2026, Pemprov Papua mengidentifikasi Jepang, Australia, dan Jerman sebagai mitra utama. Keunikan sagu sebagai produk pangan sehat (gluten-free) menjadi daya tarik utama di negara-negara tersebut.
Menariknya, Thesia mengungkapkan adanya potensi keuntungan yang belum tergarap maksimal. “Kami menemukan gap produksi yang sangat menguntungkan. Kapasitas produksi kita mampu menyentuh angka 13 ribu, sementara kebutuhan mitra saat ini baru di kisaran dua ton. Ruang tumbuhnya masih sangat lebar,” lanjutnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov berencana membangun dua pusat produksi utama (Rumah Produksi) yang berlokasi di:
* Kabupaten Jayapura (sebagai hub logistik dan pengolahan)
* Kabupaten Waropen (sebagai sentra bahan baku utama)
Di sisi lain, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua, Anton Yoas Imbenai, memberikan catatan kritis mengenai konsistensi suplai. Menurutnya, pasar internasional sangat ketat terkait kuantitas dan keberlanjutan stok.
” Pasar dunia tidak mau tahu alasan stok habis. Oleh karena itu, OPD bidang pertanian dan perkebunan harus menjamin ketersediaan bahan baku. Masalah serius yang kita hadapi adalah alih fungsi lahan. Jangan sampai dusun sagu berubah menjadi deretan bangunan beton. Jika ini tidak diproteksi bersama masyarakat adat, kita akan kehilangan masa depan ekonomi kita sendiri,” kata Imbenai memperingatkan.
Komitmen Anggaran dan Penurunan Kemiskinan
Dukungan penuh juga datang dari sisi fiskal. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Papua, Rusdianto Abu, menyatakan kesiapannya untuk mengawal pendanaan program ini secara proporsional.
“Jika mapping program dari setiap OPD sudah jelas dan terintegrasi, kami dari BPKAD siap mengalokasikan anggaran secara profesional. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Rusdianto.
Ia berharap sinergi ini menjadi warisan nyata dari kepemimpinan Gubernur Matius D. Fakhiri dan Wakil Gubernur Aryoko A.F Rumaropen.
“Hilirisasi sagu ini bukan sekadar proyek seremoni. Ini adalah tiket kita untuk menurunkan angka kemiskinan di Papua. Jika data persebaran sagu kuat dan dikelola dengan baik, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat di kampung-kampung sebagai pemilik ulayat,” pungkasnya. (Redaksi)








