TOLIKARA, PL– Pencarian intensif terhadap Diki Barus, warga yang dilaporkan hilang di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, hingga kini belum membuahkan hasil. Memasuki hari ke-20 sejak operasi dimulai, aparat kepolisian berencana melibatkan kearifan lokal melalui ritual adat untuk memecahkan kebuntuan informasi.
Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H., melalui Kasat Reskrim AKP Budi Payung, S.H., mengonfirmasi bahwa penyisiran skala besar telah dilakukan sejak Selasa (17/3) hingga Sabtu (5/4). Namun, keberadaan korban masih misterius.
Tim gabungan yang terdiri dari Sat Reskrim Polres Tolikara, Tim Khusus Kapolres, dan masyarakat setempat tercatat telah menggeledah empat titik krusial:
*Kampung Gilubandu
*Kampung Kanggime
*Kampung Telenggeme
*Area hutan dan jurang di sekitar TKP
“Tim telah melakukan penyisiran maksimal, bahkan menjangkau wilayah hutan dan jurang yang medannya sangat sulit. Namun, status pencarian hingga saat ini masih nihil,” tegas AKP Budi Payung dalam keterangan resminya.
Menanggapi kebuntuan tersebut, Polres Tolikara memutuskan untuk mengakomodasi saran masyarakat adat setempat.
Rencananya, polisi akan memfasilitasi ritual “Buang Darah Babi” di lokasi kejadian sebagai upaya non-teknis menemukan petunjuk.
“Kami menghargai kearifan lokal. Kami akan berkoordinasi dengan pimpinan (Kapolres) untuk menyiapkan satu ekor babi guna prosesi adat tersebut. Harapannya, ini bisa membantu membuka jalan atau petunjuk keberadaan korban,” lanjut Kasat Reskrim.
Meski menjadi prioritas, pelaksanaan ritual adat ini dipastikan tidak akan digelar dalam waktu dekat. Polisi masih fokus pada pemulihan keamanan di wilayah lain.
“Prosesi ritual adat baru akan dilaksanakan setelah konflik yang saat ini terjadi di Distrik Bokondini berhasil diselesaikan sepenuhnya,” tambah AKP Budi.
Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh masyarakat Tolikara yang memiliki informasi sekecil apa pun terkait keberadaan Diki Barus untuk segera melapor ke Sat Reskrim Polres Tolikara guna ditindaklanjuti.(Redaksi)








