

JAYAPURA, PL— Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, bergerak cepat meninjau titik-titik krusial terdampak banjir akibat fenomena siklon tropis dan perubahan iklim ekstrem di Kabupaten Jayapura, Kamis (9/4/2026). Salah satu titik terparah terpantau di Kampung Yoboi, di mana luapan Danau Sentani mulai mengisolasi aktivitas warga.
Dalam tinjauan lapangan tersebut, Fakhiri mengungkapkan bahwa anomali cuaca memicu kenaikan debit air danau secara signifikan, sementara arus pembuangan ke laut terhambat faktor alam.
“Hari ini saya bersama tim gabungan provinsi dan kabupaten mengecek langsung dampak perubahan iklim. Siklon yang melanda Papua memicu luapan Danau Sentani yang kini mulai mengganggu stabilitas kampung-kampung di pesisir danau,” ujar Fakhiri di lokasi.

Fakhiri menjelaskan, kondisi diperparah oleh tekanan angin barat yang sangat kuat. Hal ini menyebabkan fenomena arus balik, di mana air yang seharusnya mengalir keluar justru terdorong kembali masuk ke badan danau.
“Angin barat membuat dorongan air keluar tidak maksimal. Arusnya justru kembali ke danau,” jelasnya.
Peninjauan dimulai dari Muara Kaifuri di Yokiwa, di mana ditemukan banyak sumbatan material kayu yang menghalangi jalur pembuangan air. Fakhiri memastikan alat berat dan tim teknis akan segera dikerahkan untuk melakukan normalisasi.
Data sementara mencatat sedikitnya 200 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir. Di Kampung Yobe, akses transportasi sempat lumpuh akibat jembatan putus, meski kini sedang dalam upaya perbaikan darurat oleh warga.
“Di Yoboi kondisi paling memprihatinkan, hampir seluruh rumah terendam. Kami akan berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten untuk prioritas perbaikan rumah warga yang rusak,” tegas Fakhiri.
Selain hunian, sektor pendidikan menjadi perhatian serius. Sejumlah sekolah terendam air tepat saat siswa kelas akhir bersiap menghadapi ujian sekolah.
“Kasihan anak-anak kita yang duduk di kelas 4 hingga 6. Kami sedang mencari solusi alternatif agar proses belajar tetap berjalan dan mereka tidak tertinggal jadwal ujian,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi Papua kini terus memantau fluktuasi debit air. Meski opsi pengungsian massal masih bersifat situasional, Fakhiri menghimbau warga untuk tetap waspada dan mulai mengamankan diri ke lokasi yang lebih tinggi jika curah hujan kembali meningkat.(Redaksi)









