JAYAPURA, PL– Pemerintah Provinsi Papua resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Pertanian (Kementan) RI untuk mempercepat pengembangan lahan sawah baru. Langkah besar ini dikukuhkan melalui penandatanganan kerja sama di Gedung Negara Papua, Dok V Jayapura, pada Minggu (26/4/26).
Program ini diproyeksikan menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus mengoptimalkan potensi lahan tidur di Bumi Cenderawasih agar lebih produktif.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan realisasi dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Papua adalah kunci bagi kedaulatan pangan di masa depan.
“Pengembangan lahan sawah baru ini adalah strategi nasional untuk menggenjot produksi pangan. Papua memiliki potensi luar biasa yang harus dikelola secara terencana dan berkelanjutan,” tegas Hermanto.
Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri , menyambut positif mandat tersebut. Ia menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar urusan tanam-menanam, melainkan upaya sistematis untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua.
Fakhiri menyoroti tiga dampak positif utama dari program ini:
1. Kemandirian Pangan: Mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.
2. Lapangan Kerja: Membuka peluang kerja baru bagi pemuda dan masyarakat di pedesaan.
3. Pertumbuhan Ekonomi: Mendorong sektor pertanian sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang baru.
Untuk memastikan keberhasilan program, Pemprov Papua dan Kementan akan berfokus pada tiga aspek krusial:
* Penyediaan Lahan: Identifikasi wilayah potensial yang tidak berbenturan dengan kawasan konservasi.
* Infrastruktur Irigasi: Membangun sistem pengairan modern agar lahan dapat digarap sepanjang tahun.
* Pemberdayaan Petani: Melakukan pendampingan teknis bagi masyarakat lokal agar mampu mengelola sawah dengan teknologi terbaru.
“Kami berkomitmen mengawal seluruh proses ini. Kolaborasi pusat dan daerah adalah harga mati untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh rakyat,” pungkas Fakhiri.
Dengan kesepakatan ini, Papua kini bersiap bertransformasi dari wilayah konsumen menjadi pusat produksi pangan utama di wilayah Indonesia Timur. (Redaksi)








