SORONG, PL– Menjelang peringatan bersejarah 1 Mei sebagai hari integrasi Papua ke dalam pelukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebuah narasi keteguhan hati muncul dari sosok Samanhudin Iha, SH. Sebagai cucu dari Pahlawan Nasional asal Fakfak, Provinsi Papua Barat, Machmud Singgirei Rumagesan, Samanhudin membawa pesan mendalam bagi generasi muda tentang arti kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada bangsa.
Antara Kebanggaan dan Air Mata untuk Sang Pejuang
Saat dihubungi oleh tim PapuaLink.co melalui sambungan telepon pada Rabu siang (29/4/26), Samanhudin Iha tidak dapat menyembunyikan getaran emosi dalam suaranya. Ia mengaku merasa sangat bangga namun di saat yang sama diselimuti kesedihan yang mendalam setiap kali mengenang pesan-pesan dari almarhum kakek dan ayahnya.

Bagi Samanhudin, momen menjelang Hari Integrasi selalu membangkitkan ingatan akan wasiat perjuangan kakeknya, Machmud Singgirei Rumagesan, sang Raja Sekar yang secara anumerta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2020. Kakeknya merupakan tokoh kunci yang mendirikan Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat (GTRIB) untuk memperjuangkan integrasi Papua ke dalam NKRI.
“Saya merasa sangat bangga membawa darah pejuang, namun ada rasa sedih jika mengingat pesan dari kakek dan ayah saya. Mereka berjuang dengan titik darah penghabisan agar kita semua bisa merasakan kemerdekaan dalam bingkai NKRI,” ungkap Samanhudin dengan penuh haru.
Kesaksian di Balik Tragedi Fakfak Agustus 2019
Militansi Samanhudin bukan sekadar warisan kata-kata, melainkan tindakan nyata yang teruji dalam api konflik. Ia mengenang kembali peristiwa kelam yang melanda Fakfak pada Agustus 2019. Ketegangan dimulai pada 20 Agustus 2019, sesaat setelah kemeriahan karnaval tingkat umum dalam rangka HUT RI ke-73 berakhir di Jl. Dr. Salasa Namudat pukul 18.00 WIT. Hanya berselang tiga puluh menit, pembakaran ban bekas mulai terjadi di Kantor Dewan Adat Baham Matta dan ruas Jalan Pasar Tumburuni, yang memuncak pada pembakaran Pasar Tumburuni sekitar pukul 19.30 WIT.
Puncaknya terjadi pada pagi hari 21 Agustus 2019. Sejak pukul 06.00 WIT, massa telah berkumpul dan merusak fasilitas umum di sepanjang Jl. Dr. Salasa Namudat, menyasar Taman Satu Tungku Tiga Batu hingga deretan kantor perbankan seperti Bank Papua, BRI, Bank Mega, serta kantor Pegadaian dan ruko-ruko warga.

Perlawanan Spontan demi Kehormatan Merah Putih
Di tengah situasi mencekam saat ia hendak berangkat kantor sekitar pukul 07.00 WIT, Samanhudin menyaksikan pemandangan yang memukul batinnya: bendera Bintang Kejora telah berkibar di depan Kantor Dewan Adat Baham Matta. “Hal ini membuat pertanyaan dalam hati saya, mengapa bendera Bintang Kejora bisa berkibar di sana? Ada apa?” kenangnya.
Tanpa ragu, gejolak jiwa nasionalismenya memicu aksi spontan. Samanhudin langsung bergerak mencari bendera Merah Putih, mendapatkannya di depan rumah Bapak Hi. Lahamundu di Tanjung Wagom, lalu kembali ke jalanan. Di tengah gentingnya kota, ia mengibarkan Sang Saka Merah Putih untuk memberi semangat kepada warga lokal maupun warga nusantara guna melakukan perlawanan terhadap aksi anarkis tersebut. Upaya penyatuan massa pro-NKRI ini akhirnya berhasil membubarkan kelompok massa perusak keluar dari Kota Fakfak.
Keteguhan Samanhudin di tengah kekacauan tersebut berdampak mendalam bagi keluarganya. Sang anak, Achmad Ibrahim Iha (Baim), yang saat itu baru berusia tiga tahun, harus tidur dengan mendekap bendera Merah Putih. Hal ini menjadi simbol kepiawaian sang ayah dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan bahkan di saat kota dalam kondisi paling tidak menentu.

Jejak Karier dan Simbol Kedaulatan di Menara Suar
Selain dikenal sebagai aktivis yang berani di lapangan, Samanhudin adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) profesional yang menjabat sebagai Kepala Sub Bagian SDM dan Humas di Distrik Navigasi Tipe A Kelas I Sorong. Memulai karier dari golongan II/a pada tahun 2007, ia terus menunjukkan dedikasi tinggi hingga mencapai pangkat Penata (III/c) pada April 2024. Atas pengabdiannya, ia telah dianugerahi tanda kehormatan Satya Lencara Karya X Tahun pada tahun 2021.
Sejak tahun 2012, ia juga menjadi inisiator rutin pengibaran bendera Merah Putih berukuran jumbo di menara-menara suar serta pulau-pulau terpencil. Aksi ini ia lakukan untuk memastikan bahwa kedaulatan Indonesia hadir di setiap sudut, bahkan di wilayah terdepan nusantara.

Pesan untuk Generasi Muda Papua
Menyambut momen 1 Mei, Samanhudin menitipkan pesan khusus bagi generasi muda di seluruh Tanah Papua agar tidak melupakan sejarah. Ia menekankan bahwa integrasi adalah buah dari perjuangan panjang yang harus dirawat dengan pembangunan dan kedamaian.
“Kepada adik-adik generasi muda, mari kita jaga persatuan ini dengan penuh semangat nasionalisme,” seru Samanhudin. “Jangan biarkan perjuangan para pahlawan kita, termasuk kakek saya melalui GTRIB, menjadi sia-sia. Mari kita isi integrasi ini dengan hal-hal positif dan menjaga NKRI agar tetap aman sampai ke anak cucu kita nantinya.”
Bagi Samanhudin Iha, setiap kibaran bendera di tengah jalan raya saat konflik maupun di puncak menara suar saat damai, adalah cara terbaik untuk melunasi janji bakti kepada sang kakek dan tanah air tercinta.(Redaksi)








