JAYAPURA, PL– Di tengah hiruk-pikuk dinamika pembangunan di Tanah Papua, muncul satu sosok yang dinilai konsisten meletakkan fondasi bagi masa depan generasi muda melalui jalur olahraga. Ia adalah Mathius Derek Fakhiri (MDF). Mantan Kapolda Papua ini kini menuai apresiasi luas berkat keberpihakannya yang tulus terhadap pembinaan sepak bola usia dini, yang terbukti bukan sekadar retorika, melainkan kerja nyata yang membuahkan hasil di level nasional.
Kisah heroik ini bermula pada Juli 2024, saat tim SSB Nafri U -16 menyandang status jawara Liga TopSkor Papua 2024. Prestasi tersebut seharusnya menjadi tiket emas bagi mereka untuk berlaga di Liga TopSkor Nasional yang digelar di ASIOP Training Center, Sentul, Bogor. Namun, kenyataan pahit sempat menghantam skuat asuhan Chris Leo Yarangga dan manajemen G.L. Tjo’e tersebut.

Titik Terendah: Ketika Pintu-Pintu Tertutup
Manajemen SSB Nafri sempat berada di ambang keputusasaan. Selama berbulan-bulan, berbagai upaya dilakukan untuk mencari dukungan finansial. Proposal bantuan dana dikirimkan ke berbagai instansi, mulai dari Pemerintah Daerah, jajaran pejabat teras, hingga sektor swasta dan BUMN/BUMD di Kota Jayapura.
“Kami sudah mengetuk semua pintu, namun tidak ada yang peduli. Harapan kami hampir punah. Kami bahkan sempat memutuskan untuk membatalkan keberangkatan tim yang sudah kami gembleng selama enam bulan,” ungkap Ketua SSB Nafri, G.L. Tjo’e.
Bagi anak-anak asuhnya, termasuk di bawah bimbingan teknis Chris Leo Yarangga, kegagalan berangkat bukan hanya soal batal bertanding, melainkan tentang matinya harapan untuk dilirik oleh pemandu bakat nasional.
“Mujizat” dari Markas Polda Papua
Di saat harapan berada di titik nadir, sosok Mathius Derek Fakhiri yang kala itu menjabat sebagai Kapolda Papua, hadir memberikan solusi konkret. Tanpa birokrasi yang berbelit, MDF menyatakan kesiapannya menanggung seluruh biaya transportasi dan akomodasi tim dari Jayapura ke Bogor (PP), termasuk biaya operasional selama kompetisi berlangsung dari tanggal 7 hingga 14 Juli 2024.
Bantuan ini dianggap sebagai “mujizat” bagi manajemen dan orang tua pemain. Keberpihakan MDF membuktikan bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu mendengar jeritan aspirasi akar rumput, terutama dalam menjaga bakat-bakat emas Papua agar tidak layu sebelum berkembang.

Buah Kasih: Dari Nafri ke Timnas Indonesia
Dukungan MDF tidak berakhir sebagai catatan administratif belaka. Investasi sosial yang ia tanamkan langsung membuahkan hasil gemilang bagi skuat asuhan Chris Leo Yarangga ini. Penampilan impresif SSB Nafri di Sentul menarik perhatian para pemandu bakat kelas wahid.
Salah satu talenta berbakat, Chiko Jerico Yarangga, berhasil mencuri perhatian manajemen Akademi ASIOP. Berkat performa apiknya di turnamen tersebut, Chiko resmi dipinang oleh salah satu akademi terbaik di Indonesia itu. Tak berhenti di sana, perkembangan pesat Chiko akhirnya membawanya menembus skuat Timnas Indonesia U -17.
* Pemain: Chiko Jerico Yarangga (SSB Nafri)
* Prestasi: Lulusan Liga TopSkor Nasional (Dukungan MDF)
* Status Terkini: Pemain Timnas U-17 Indonesia
Apresiasi dan Harapan Masa Depan
Keberhasilan Chiko Jerico menembus level tim nasional menjadi bukti otentik bahwa sentuhan tangan dingin pemimpin seperti MDF sangat dibutuhkan Papua saat ini. Kepedulian MDF dinilai melampaui tugas kedinasannya, melainkan bentuk kecintaan seorang putra daerah terhadap masa depan generasinya.
“Terima kasih Bapak MDF atas kerja nyata yang membuahkan hasil. Tanpa uluran tangan Bapak saat itu, mungkin Chiko tidak akan pernah memakai seragam Garuda di dada. Ini adalah bukti bahwa Bapak adalah pemimpin yang peduli pada pembinaan manusia Papua,” tutup G.L. Tjo’e.
Aksi nyata Mathius Derek Fakhiri ini kini menjadi standar baru bagi para pemimpin di Papua; bahwa mendukung sepak bola bukan sekadar soal memberi bola, tapi soal membuka jalan bagi mimpi anak-anak Papua menuju pentas dunia.(Redaksi)








