JAYAPURA, PL— Tanah Papua masih menjadi perhatian serius dalam peta kesehatan nasional. Menanggapi tingginya prevalensi penyakit menular, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi meluncurkan langkah strategis melalui Rapat Koordinasi Teknis (Rakontek) percepatan eliminasi HIV/AIDS, Tuberkulosis (TBC), Malaria, dan Kusta yang digelar di Kota Jayapura, 27–29 April 2026.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan respons darurat atas beban penyakit di Papua yang masih mendominasi statistik nasional.
“Papua hingga kini masih menjadi wilayah dengan kontribusi kasus nasional terbesar. Rakontek ini adalah jawaban konkret untuk memangkas angka tersebut secara signifikan,” ujar Prima di sela-sela kegiatan.
Dalam paparannya, Prima mengakui bahwa perjuangan di Papua memiliki kompleksitas yang unik. Setidaknya ada tiga tantangan utama yang diidentifikasi:
1. Geografis ekstrem yang menyulitkan distribusi logistik medis.
2. Kesenjangan akses layanan kesehatan di pelosok.
3. Distribusi sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang belum merata.
“Tujuan utama kami adalah menyelaraskan perencanaan dan pembiayaan antara pusat dan daerah. Kami butuh langkah strategis yang terukur, bukan sekadar teori, agar eliminasi ini benar-benar terjadi di lapangan,” tegasnya.
Pertemuan tingkat tinggi ini tidak hanya melibatkan birokrat kesehatan, tetapi juga merangkul enam pemerintah provinsi dan 14 kabupaten/kota dengan beban kasus tertinggi. Kemenkes juga menggandeng mitra pembangunan internasional dan sektor swasta untuk menutup celah pendanaan dan teknologi.
Metode Rakontek kali ini dibuat lebih spesifik melalui:
* High-Level Session: Penguatan komitmen politik kepala daerah.
* Technical Class: Diskusi mendalam per jenis penyakit.
* Rencana Tindak Lanjut (RTL): Penyusunan draf kerja yang akan langsung dieksekusi pasca-acara.
Menutup pernyataannya, Prima mengapresiasi seluruh pihak yang tetap konsisten di jalur perjuangan kesehatan ini. Ia optimistis bahwa sinergi yang terbangun dalam forum ini akan menjadi momentum bersejarah.
“Ini adalah investasi masa depan. Kita bergerak bersama untuk memastikan tahun 2030 menjadi tahun di mana Papua merdeka dari ancaman malaria dan penyakit menular lainnya, sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional,” pungkasnya. (Redaksi)








