MIMIKA, PL— Kehadiran Kapal Motor Perintis Sabuk Nusantara (KM Sanus) 114 sebenarnya menjadi angin segar bagi masyarakat di Distrik Mimika Timur Jauh, Jita, dan Agimuga, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Transportasi laut ini sangat membantu mobilitas warga yang ingin bepergian dari kampung ke Kota Timika maupun sebaliknya.
Namun, layanan kapal perintis ini kini terancam terhambat akibat masalah klasik di pesisir timur Mimika: pendangkalan sungai dan muara laut.
Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah (DPRPT), John NR Gobai, mengungkapkan bahwa pendangkalan alur pelayaran ini kerap membuat motoris dan penumpang speedboat harus turun dan mendorong perahu mereka saat terkandas. Masalah serupa kini membayangi kapal berukuran besar seperti KM Sanus 114.
“Sejak beberapa tahun lalu, kami mengadvokasi kasus pendangkalan ini. Saat menjabat di DPR Papua, saya memperjuangkan hal ini ke Kementerian Perhubungan di Jakarta agar kapal perintis bisa masuk ke Sipu-Sipu, dan perjuangan itu berhasil,” ujar Gobai.
Disambut Sukacita, Kini Terkendala 3 Titik Dangkal
Pada pelayaran perdananya setelah Launching dari Pelabuhan Pomako Timika, KM Sanus 114 sempat berhasil bersandar sekali di Distrik Jita. Kedatangan kapal disambut gembira oleh masyarakat setempat lewat prosesi adat di Dermaga Sipu-Sipu.
Sayangnya, pelayaran berikutnya tidak berjalan mulus. KM Sanus 114 yang melayani rute Pomako Timika – Sipu-Sipu – Agats hingga Merauke ini, terhambat oleh titik-titik dangkal sebelum mencapai dermaga tujuan.
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, setidaknya ada tiga titik pendangkalan kritis yang wajib dikeruk.
“Masih terdapat pendangkalan di sekitar Pulau Tiga menuju ke Sungai Muras Besar dan Sungai Agimuga. Jarak area dangkalnya kurang lebih 20 mil. Beberapa tempat itu harus segera dikuras (dikeruk) supaya pelayaran kapal tidak terkendala,” tegas Gobai.
Catatan Penting Nahkoda: Menyangkut Keselamatan
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Nahkoda KM Sanus 114 bahkan telah mengirimkan pesan khusus terkait kondisi jalur yang dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan kru dan penumpang:
“Jadi bapak, kami kru Sanus 114 sangat minta maaf yang sebesar-besarnya. Kami sangat antusias untuk menjadi bagian yang melayani masyarakat Distrik Jita. Tapi menyangkut keselamatan yang tidak bisa dihindari, kami meminta bapak dan pemerintah untuk melakukan perbaikan muara, kedalaman, dan juga rambu-rambu, biar pada saat kapal masuk aman, lancar, dan bisa terus melayani masyarakat Jita. Jadi selama belum ada perbaikan muara, kami mengkhawatirkan keselamatan kapal dan penumpang. Sekiranya bapak beserta masyarakat Jita bisa mengerti dengan keadaan ini,” Nahkoda KM Sanus 114.
DPRPT Desak Pemprov, Pemkab Mimika, dan PT Freeport Turun Tangan
Mengingat Kementerian Perhubungan tetap menetapkan trayek KM Sanus 114 ke Sipu-Sipu pada tahun anggaran 2026 ini, penanganan pengerukan di depan Pulau Tiga bersifat sangat mendesak (urgent).
Merespons hal tersebut, pimpinan DPR Papua Tengah telah menggelar Hearing (Dengar Pendapat) pada 4 Mei 2026 lalu. Hasil pertemuan menyepakati untuk mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Mimika, serta PT Freeport Indonesia untuk bersinergi melakukan pengerukan.
John Gobai secara khusus menyoroti tanggung jawab sosial dan lingkungan dari pihak perusahaan tambang raksasa tersebut.
“Pihak Freeport juga harus berkontribusi dalam situasi ini. Freeport tidak bisa mengatakan itu bukan wilayah kerjanya. Harus disadari bahwa Distrik Jita bukanlah daerah yang jauh dari tempat pembuangan *tailing* Freeport,” pungkasnya.
Warga berharap alur laut segera dikeruk minimal membentuk alur masuk yang cukup dalam, sehingga KM Sabuk Nusantara 114 bisa kembali berlayar normal dan aman demi urat nadi perekonomian masyarakat pesisir Mimika.(Redaksi)








